Ketika seseorang ingin membuka usaha atau mengembangkan bisnis, salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah langsung menghitung berapa modal yang dibutuhkan tanpa terlebih dahulu memahami pasar, model bisnis, struktur biaya, dan potensi pendapatan.
Padahal, sebuah rencana bisnis yang baik perlu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar:
Bisnisnya akan menghasilkan uang dari mana, berapa biaya yang dibutuhkan, kapan mencapai titik impas, dan bagaimana arus kasnya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dua dokumen yang sering digunakan adalah business plan dan studi kelayakan.
Keduanya saling berkaitan, tetapi memiliki tujuan yang berbeda.
Apa Itu Business Plan?
Business plan merupakan dokumen yang menjelaskan bagaimana sebuah bisnis akan dijalankan.
Di dalamnya dapat mencakup:
- konsep dan model bisnis;
- produk atau jasa;
- target pasar;
- strategi pemasaran;
- struktur organisasi;
- rencana operasional;
- kebutuhan investasi;
- sumber pendanaan;
- proyeksi pendapatan;
- proyeksi biaya;
- serta proyeksi keuangan.
Karena itu, jasa pembuatan bisnis plan dapat membantu pemilik usaha menyusun rencana bisnis secara lebih sistematis.
Business plan tidak hanya dibutuhkan oleh perusahaan baru. Bisnis yang sudah berjalan juga dapat menggunakannya ketika ingin membuka cabang, melakukan ekspansi, mengembangkan produk baru, atau mencari pendanaan.
Business Plan Harus Memiliki Dasar Data
Business plan yang baik seharusnya tidak hanya berisi asumsi.
Misalnya, sebuah bisnis memperkirakan dapat memperoleh 2.000 pelanggan dalam satu tahun.
Pertanyaannya:
Apa dasar dari angka tersebut?
Apakah berasal dari data historis?
Hasil riset pasar?
Survei konsumen?
Data kompetitor?
Atau hanya perkiraan pemilik bisnis?
Semakin penting keputusan yang akan diambil, semakin penting pula dasar dari asumsi tersebut.
Karena itu, riset pasar dapat menjadi bagian penting dalam proses penyusunan business plan.
Perusahaan dapat menggunakan jasa sebar kuesioner atau jasa survey online untuk memperoleh data dari target responden sebelum menyusun proyeksi pasar dan penjualan.
Dari Riset Pasar ke Proyeksi Pendapatan
Misalnya hasil penelitian menunjukkan adanya potensi pasar terhadap produk tertentu.
Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk menyusun beberapa asumsi:
Jumlah calon pelanggan ? tingkat konversi ? jumlah transaksi ? harga rata-rata ? proyeksi pendapatan.
Sebagai contoh:
1.000 pelanggan × Rp500.000 transaksi rata-rata
= Rp500 juta pendapatan
Angka tersebut kemudian menjadi salah satu komponen dalam proyeksi laba rugi.
Namun, pendapatan bukan berarti laba.
Perusahaan masih harus membayar berbagai biaya.
Memahami Anatomi Laba Rugi
Secara sederhana:
Pendapatan – Beban = Laba Bersih
Beban dapat mencakup:
- biaya bahan baku;
- gaji;
- sewa;
- listrik;
- pemasaran;
- transportasi;
- administrasi;
- pemeliharaan;
- dan biaya operasional lainnya.
Dari sini, pemilik bisnis dapat melihat apakah model bisnis menghasilkan keuntungan atau justru mengalami kerugian.
Tetapi masih ada satu hal penting yang harus diperhatikan: cash flow.
Laba Tidak Sama dengan Cash Flow
Laba rugi dan cash flow merupakan dua hal yang berbeda.
Laba menunjukkan kinerja keuangan berdasarkan pendapatan dan beban dalam suatu periode.
Sementara cash flow menunjukkan pergerakan kas masuk dan kas keluar.
Secara sederhana:
Cash Inflow – Cash Outflow = Net Cash Flow
Sebuah bisnis bisa saja terlihat menghasilkan laba, tetapi mengalami tekanan cash flow karena harus membayar investasi, cicilan, pembelian aset, atau kebutuhan modal kerja.
Karena itu, business plan yang baik perlu mempertimbangkan bukan hanya laba, tetapi juga kebutuhan kas.
Apa Itu Studi Kelayakan?
Jika business plan menjelaskan bagaimana bisnis akan dijalankan, maka studi kelayakan lebih berfokus pada pertanyaan:
"Apakah rencana bisnis atau investasi tersebut layak untuk dijalankan?"
Studi kelayakan biasanya menganalisis berbagai aspek, antara lain:
- aspek pasar;
- aspek teknis;
- aspek operasional;
- aspek manajemen;
- aspek legal;
- aspek lingkungan sesuai kebutuhan;
- aspek risiko;
- dan aspek finansial.
Dalam proyek investasi, aspek finansial menjadi salah satu bagian penting karena investor perlu mengetahui kebutuhan modal, proyeksi pendapatan, biaya, laba, cash flow, dan tingkat pengembalian investasi.
Hubungan Business Plan dan Studi Kelayakan
Keduanya dapat digunakan secara berurutan.
Riset Pasar
?
Business Plan
?
Proyeksi Pendapatan & Biaya
?
Laba Rugi & Cash Flow
?
Analisis Investasi
?
Studi Kelayakan
Namun, dalam praktiknya proses tersebut dapat bersifat iteratif. Hasil analisis kelayakan dapat membuat pemilik bisnis kembali memperbaiki asumsi business plan.
Misalnya, setelah dihitung ternyata kebutuhan investasi terlalu besar dibandingkan potensi cash flow.
Pemilik bisnis kemudian dapat mengubah:
- skala usaha;
- harga;
- target pasar;
- struktur biaya;
- model operasional;
- atau strategi pendanaan.
Menghitung Payback Period
Salah satu indikator yang dapat digunakan dalam analisis investasi adalah Payback Period.
Misalnya investasi awal:
Rp1 miliar
Kemudian proyek menghasilkan cash flow bersih rata-rata:
Rp250 juta per tahun
Secara sederhana:
Rp1 miliar ÷ Rp250 juta = 4 tahun
Artinya, modal secara sederhana diperkirakan kembali dalam empat tahun.
Namun, analisis investasi yang lebih lengkap tidak hanya menggunakan Payback Period.
NPV dan IRR
Dalam jasa pembuatan studi kelayakan, analisis finansial dapat dikembangkan dengan indikator seperti NPV dan IRR.
NPV (Net Present Value) memperhitungkan nilai waktu uang dari arus kas proyek.
Sementara IRR (Internal Rate of Return) digunakan untuk melihat tingkat pengembalian internal investasi.
Dengan menggunakan beberapa indikator tersebut, investor dapat melihat proyek dari berbagai perspektif, bukan hanya berdasarkan besarnya laba.
Business Plan untuk Operasional, Studi Kelayakan untuk Keputusan Investasi
Secara sederhana, perbedaannya dapat dipahami seperti ini:
| Business Plan | Studi Kelayakan |
|---|---|
| Menjelaskan rencana bisnis | Menilai kelayakan rencana |
| Fokus pada bagaimana bisnis dijalankan | Fokus pada apakah investasi layak |
| Membahas model bisnis | Membahas berbagai aspek kelayakan |
| Membahas strategi pemasaran | Menganalisis pasar dan kompetisi |
| Membuat proyeksi keuangan | Menguji kelayakan finansial |
| Dapat digunakan sebagai panduan bisnis | Dapat digunakan sebagai dasar keputusan investasi |
Keduanya bukan dokumen yang saling menggantikan.
Dalam banyak proyek, business plan dan studi kelayakan justru dapat saling melengkapi.
Kapan Membutuhkan Jasa Pembuatan Bisnis Plan?
Jasa pembuatan bisnis plan dapat dipertimbangkan ketika pemilik usaha membutuhkan dokumen yang lebih terstruktur untuk:
- memulai bisnis baru;
- melakukan ekspansi;
- membuka cabang;
- mengembangkan produk;
- mencari investor;
- mengajukan pendanaan;
- atau menyusun strategi pertumbuhan perusahaan.
Sementara jasa pembuatan studi kelayakan lebih relevan ketika pemilik bisnis atau investor ingin melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan suatu proyek atau investasi.
Kesimpulan
Business plan dan studi kelayakan memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling berhubungan.
Business plan membantu menjelaskan bagaimana sebuah bisnis akan dijalankan, sedangkan studi kelayakan membantu menganalisis apakah rencana tersebut layak berdasarkan berbagai aspek.
Keduanya membutuhkan asumsi yang realistis mengenai pasar, pendapatan, biaya, investasi, laba rugi, dan cash flow.
Karena itu, proses yang ideal tidak berhenti pada membuat dokumen yang terlihat lengkap. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa angka dan asumsi di dalamnya memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi perusahaan yang sedang merencanakan usaha atau ekspansi, jasa pembuatan bisnis plan dapat membantu menyusun arah dan strategi bisnis, sedangkan jasa pembuatan studi kelayakan dapat membantu melakukan analisis kelayakan proyek secara lebih menyeluruh sebelum keputusan investasi diambil.